Banyuasin — Sumsel Datapos.id Dugaan permainan harga pupuk subsidi kembali mencuat di Kabupaten Banyuasin.
Kali ini, sejumlah petani di Dusun III Desa Rimau Sungsang mengeluhkan harga pupuk subsidi yang diduga dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) oleh oknum pengurus Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).
Kondisi tersebut memicu keresahan di kalangan petani yang mengaku semakin terbebani dengan tingginya biaya produksi pertanian. Program pupuk subsidi yang seharusnya membantu meringankan kebutuhan petani kecil justru diduga dimanfaatkan untuk meraup keuntungan pribadi.
Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengaku kecewa atas kondisi yang terjadi di lapangan.
Menurutnya, pupuk subsidi semestinya dapat diperoleh petani sesuai ketentuan pemerintah.
“Kalau pupuk subsidi dijual mahal, lalu apa gunanya subsidi untuk rakyat? Petani makin susah,” ungkapnya.
Warga menyebut persoalan tersebut bukan kali pertama terjadi. Keluhan mengenai dugaan kenaikan harga pupuk subsidi disebut telah lama disampaikan masyarakat, namun hingga kini belum terlihat adanya tindakan tegas dari pihak terkait.
Para petani berharap pemerintah daerah, dinas pertanian, hingga aparat penegak hukum segera turun tangan melakukan pemeriksaan terhadap distribusi pupuk subsidi di wilayah tersebut.
Mereka juga meminta adanya pengawasan ketat agar penyaluran pupuk benar-benar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan oleh oknum tertentu.
Pemerintah sendiri telah menetapkan bahwa pupuk subsidi wajib dijual sesuai HET guna menjaga stabilitas sektor pertanian nasional.
Pengawasan distribusi pupuk subsidi tahun 2026 juga terus diperketat agar program bantuan tersebut dapat dinikmati petani yang berhak.
Keluhan serupa juga ramai diperbincangkan masyarakat di media sosial maupun forum publik. Banyak warga menilai praktik permainan distribusi pupuk subsidi masih kerap terjadi di lapangan dan merugikan petani kecil.
Masyarakat Dusun III Desa Rimau Sungsang kini mendesak adanya transparansi penyaluran pupuk subsidi serta audit terhadap Gapoktan yang diduga memainkan harga pupuk.
“Jangan sampai pupuk subsidi hanya jadi bancakan oknum. Petani butuh keadilan, bukan janji,” tegas warga lainnya.
(Tim red)

