Ketika Nilai TKA Menjadi Cermin, Bukan Sekadar Pajangan

Kalbar, datapos.id, 12 Juni 2025 – Media sosial akhir-akhir ini ramai dipenuhi unggahan berbagai sekolah yang menampilkan capaian nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) tertinggi. Foto-foto murid berprestasi dipublikasikan dengan penuh kebanggaan, disertai angka-angka yang mencolok dan mengesankan. Fenomena ini sebenarnya dapat dipahami sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras yang telah dilakukan bersama, baik oleh murid, guru, maupun seluruh warga sekolah dalam mencapai hasil terbaik.

Namun di balik kebanggaan yang terlihat, terdapat ruang refleksi penting yang perlu dibahas bersama. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: apakah tingginya nilai TKA benar-benar mencerminkan kualitas pembelajaran yang berlangsung selama ini, atau justru hanya menjadi indikator keberhasilan sesaat yang belum tentu menggambarkan kedalaman pemahaman yang dimiliki murid? Pertanyaan ini menjadi krusial karena menentukan arah dan tujuan pendidikan yang kita jalankan.

Pengalaman pendidikan di berbagai negara menunjukkan pola yang perlu diwaspadai. Ketika hasil tes dijadikan ukuran utama keberhasilan sekolah, perlahan fokus pembelajaran akan bergeser. Sekolah tidak lagi berorientasi pada bagaimana murid belajar secara bermakna, melainkan pada bagaimana cara memperoleh nilai setinggi mungkin. Akibatnya, proses pembelajaran yang seharusnya membangun pemahaman mendalam berisiko berubah menjadi sekadar latihan menghadapi ujian, di mana penghafalan dan teknik menjawab soal lebih diutamakan daripada pemahaman konsep.

Tidak ada yang salah dengan capaian nilai yang tinggi. Bahkan, hasil tes terstandar seperti TKA yang baik merupakan sesuatu yang patut disyukuri dan diapresiasi. Namun masalah muncul ketika capaian tersebut kemudian dimaknai secara sempit sebagai satu-satunya indikator keberhasilan sekolah. Jangan sampai muncul anggapan yang salah, bahwa sekolah yang baik hanyalah sekolah yang mampu menghasilkan skor TKA tertinggi, sedangkan kualitas proses pembelajaran yang sesungguhnya justru menjadi hal yang terabaikan dan tidak diperhatikan.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Ketika angka menjadi target utama, selalu ada godaan untuk menempuh jalan yang paling cepat dan praktis. Program pembelajaran berpotensi dipenuhi dengan latihan soal yang berulang, pengulangan pola pertanyaan, hingga berbagai strategi yang hanya berfokus pada peningkatan skor dalam jangka pendek. Akibatnya, murid mungkin mampu menjawab soal dengan baik pada saat asesmen berlangsung, namun belum tentu memiliki pemahaman yang mendalam terhadap konsep yang dipelajari dan tidak mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Lebih jauh lagi, maraknya publikasi nilai TKA saat ini secara tidak sadar dapat mendorong sekolah untuk berlomba-lomba mencari cara apapun demi memperoleh skor yang tinggi. Bukan berarti melakukan pelanggaran aturan, melainkan mengorbankan esensi pembelajaran itu sendiri. Waktu belajar yang seharusnya digunakan untuk berdiskusi, bereksplorasi, mengembangkan kreativitas, dan melatih kemampuan bernalar, malah tergeser oleh aktivitas yang semata-mata bertujuan meningkatkan performa saat tes. Bahkan tidak jarang, pembelajaran hanya berfokus pada bedah kisi-kisi dan latihan soal, sehingga mengabaikan Capaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran yang seharusnya menjadi prioritas utama.

Padahal hakikat pendidikan tidak pernah berhenti pada angka semata. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia yang memiliki tujuan jauh lebih luas daripada sekadar memberikan pengetahuan. Tugas guru bukan hanya mengajarkan materi atau memastikan murid mampu menjawab soal dengan benar, melainkan memiliki tanggung jawab yang lebih mulia, yaitu membantu murid menajamkan pikiran dan memperhalus perilaku. Di ruang kelas, guru membimbing murid untuk berpikir logis, bersikap bijaksana, memiliki rasa ingin tahu, serta mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Inilah esensi pendidikan yang sesungguhnya.

Pandangan ini sejalan dengan arah kebijakan Pembelajaran Mendalam yang diperkuat melalui Buku Saku Kebijakan dan Arahan Pembelajaran (BSKAP) Nomor 46 Tahun 2025. Pembelajaran mendalam menempatkan pemahaman sebagai tujuan utama, di mana murid tidak hanya dituntut mengetahui suatu konsep, tetapi juga memahami maknanya, menghubungkannya dengan kehidupan nyata, serta mampu menggunakannya untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi. Keberhasilan dalam pendekatan ini tidak dapat diukur hanya dari skor tes semata, melainkan dari kualitas kemampuan dan karakter yang dikembangkan pada diri murid. (Dar-win)

error: Content is protected !!